
Manusia adalah makhluk yang istimewa. Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia dikaruniai kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak. Namun, kenyataannya, seringkali kita tidak memanfaatkan kemampuan berpikir ini secara optimal. Kita seringkali bertindak tanpa didahului dengan “berpikir”. Banyak alasan yang kita kemukakan sebagai dalih untuk “tidak berpikir”: tidak ada waktu, bukan urusan kita, atau bukan tanggung jawab kita.
Namun, tahukah Anda bahwa tindakan yang dilakukan tanpa disertai dengan proses berpikir bisa membahayakan diri sendiri? Coba saja kita perhatikan kasus anggota DPR yang perbuatannya dilakukan beberapa tahun lalu, kini tengah menjadi buah bibir.
Mungkin ketika itu sang anggota DPR tidak “berpikir” terlebih dulu tentang dampak perbuatannya di kemudian hari. Dia tidak memikirkan dampak perbuatannya, yang bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi terlebih lagi bagi orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, teman, sahabat, teman kantor, dan teman di organisasi tempatnya bekerja.
Kalau saja anugerah “berpikir” kita manfaatkan dengan baik, tentunya banyak masalah yang bisa kita hindari, dan banyak solusi yang bisa kita temukan. Jadi, jelaslah bahwa berpikir kritis itu untuk dilakukan. Ingin tahu lebih jauh mengenai berpkir kritis? Simak yang berikut.
Apakah Berpikir Kritis Itu?
Banyak definisi yang ditawarkan mengenai berpikir kritis, salah satunya yang dikemukakan oleh Wright Place Consulting adalah sebagai berikut.
Berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses berpikir ini bermuara pada tujuan akhir yang membuat kesimpulan ataupun keputusan yang masuk akal tentang apa yang harus kita percayai dan tindakan apa yang akan kita lakukan.
Berpikir kritis bukanlah dilakukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang terlebih utama adalah mempertanyakan jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan demikian bisa ditemukan alternatif atau solusi terbaiknya.
Mengapa Penting?
Berpikir kritis penting untuk dilakukan karena berbagai manfaat yang bisa kita petik dari proses ini.
Kualitas Keputusan
Kualitas berpikir kritis yang kita terapkan akan mempengaruhi kualitas hasil akhir dari tindakan kita yang didahului dengan proses berpikir kritis tersebut. Misalnya, setiap kali mendapat tanggung jawab untuk melakukan sesuatu, Imam selalu memanfaatkan kemampuannya untuk berpikir kritis dengan menerapkan keenam prinsip berpikir kritis yang telah dibahas sebelumnya.
Ketika Imam ditugaskan sebagai ketua panitia peluncuran produk baru perusahaan tempat ia bekerja, ia mencoba memahami berbagai aspek dari tugas yang diberikan kepadanya, termasuk informasi yang bisa ia dapatkan sehubungan dengan tugas tersebut: fitur dan manfaat produk, target pasar dari produk, serta kekurangan dan kelebihan produk tersebut.
Ia juga mempelajari berbagai fasilitas yang bisa ia manfaatkan untuk meluncurkan produk tersebut. Setelah itu, ia melakukan analisis terhadap segala sesuatu yang terkait dengan informasi yang ia terima tentang produk yang akan diluncurkan, antar lain alternatif media, strategi anggaran, dan jangka waktu peluncuran.
Hasil dari analisis adalah berbagai alternatif strategi yang bisa dipilih. Alternatif strategi ini lalu dievaluasi untung ruginya. Hasil dari proses evaluasi adalah keputusan menggunakan satu strategi tertentu.
Keputusan ini perlu dijelaskan kepada anggota tim yang terlibat sehingga mereka bisa mendukung kegiatan yang dilakukan. Imam juga tidak lupa mengevaluasi diri sendiri tentang kemungkinan terjadinya kebiasan pandangan dan keputusan yang sudah diambil sebelum akhirnya menerapkannya dalam tindakan.
Kreatif
Berpikir kritis membantu kita menemukan bukan hanya satu solusi tetapi berbagai alternatif solusi. Berpikir kritis juga membantu kita melihat suatu permasalahan dari berbagai sumber, sehingga berbagai alternatif solusi bisa dikembangkan lebih jauh.
Misalnya Desty yang diminta mempersiapkan rapat tahunan pemegang saham diperusahaan tempat ia bekerja. Walaupun menemui berbagai masalah, melalui proses berpikir kritis, Desty bisa memanfaatkan hasil berpikir kritis untuk kreatif menemukan berbagai alternatif solusinya.
Percaya Diri
Setelah kita melalui proses berpikir kritis, keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang sudah melalui berbagai pertimbangan dari berbagai aspek. Dengan demikian, paling tidak kita sendiri sudah yakin bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik dalam situasi dan kondisi yang kita hadapi saat itu.
Cara
Lalu, bagaimana cara kita berpikir dengan kritis? Ada enam prinsip penting dalam menerapkan cara berpikir kritis, yaitu: interpretasi, analisis, evaluasi, penjelasan, dan self-regulation.
Interpretasi dan Analisis
Prinsip pertama, interpretasi, adalah upaya memahami informasi yang kita miliki. Setelah informasi berhasil kita pahami dengan baik, kita perlu melakukan analisis terhadap segala sesuatu yang terkait dengan informasi tersebut.
Evaluasi
Selanjutnya, kita perlu melakukan evaluasi terhadap dampak dari pemanfaatan ataupun pengabaian informasi tersebut. Evaluasi juga berupaya untuk menemukan berbagai alternatif solusi dengan memanfaatkan informasi yang dimiliki.
Penjelasan
Setelah kita mendapatkan solusi yang terbaik, kita perlu menjelaskan keputusan kita tersebut kepada orang lain, sehingga mereka juga bisa memahami mengapa keputusan tersebut yang kita ambil.
Lebih jauh lagi, dengan penjelasan yang masuk akal, kita bisa meyakinkan orang lain, ataupun orang-orang yang perlu diyakinkan untuk kita ajak melihat sesuatu dari sudut pandang kita.
“Self-Regulation”
Yang terakhir adalah selfregulation. Yang dimaksud dengan self-regulation adalah mencoba jujur terhadap pandangan dan keyakinan kita, ataupun kemungkinan terjadinya kesalahan atau ketimpangan dalam keputusan yang kita ambil karena pengaruh latar belakang kita.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan cara berpikir kreatif? Jika belum sepenuhnya, mungkin Anda bisa mulai sekarang untuk mendapatkan solusi yang terbaik dan keputusan yang berkualitas. Sukses untuk Anda. n
